Tampilkan postingan dengan label alam semesta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam semesta. Tampilkan semua postingan

Planet-planet Paling Aneh yang Pernah di Temukan

Alam semesta kita begitu luasnya dan diisi benda-benda angkasa, termasuk planet dan bintang dengan jumlah tidak terhingga. Dari sejumlah planet yang sudah diketahui manusia, ada beberapa diantaranya yang aneh dan unik.
Misalnya, Planet WASP-12b. Planet ini diketahui sebagai planet paling panas yang pernah ditemukan. Suhunya, mencapai 3.200 derajat Celcius! Ini baru di permukaan saja.

Ada lagi planet lain bernama Planet Dubbed TrES-4. Ini merupakan planet terbesar yang diketahui hingga saat ini. Ukurannya 1,7 kali planet Jupiter. Sebagai perbandingan, ukuran Jupiter sendiri, 120 kali ukuran Bumi yang kita tinggali.

Selain itu, ada lagi planet yang seluruh permukaannya diisi oleh air. Berikut ini foto-foto cantik dari planet-planet unik tersebut.



Planet WASP-12b adalah planet paling panas yang pernah ditemukan.
Suhu permukaannya mencapai 3.200 derajat Celcius. Letaknya 870 tahun cahaya dari bumi.
Foto: ESA/NASA



Planet Paltry memiliki 3 matahari. Jaraknya dari bumi sekitar 149 tahun cahaya.
Foto: NASA/JPL’s Planetquest/Caltech



Planet SWEEPS-10 memiliki kecepatan orbit tercepat.
Waktu yang dibutuhkan planet ini untuk sekali mengelilingi bintangnya hanya sekitar 10 jam.
Foto: NASA, ESA, A. Schaller (for STScI)

Astronom memperkirakan seluruh permukaan Planet GJ 1214b tertutup oleh air.
Planet yang besarnya 3 kali ukuran bumi ini terletak sekitar 40 tahun cahaya dari bumi.
Foto: David A. Aguilar, CFA



Planet Dubbed TrES-4 merupakan planet terbesar yang diketahui hingga saat ini.
Ukurannya 1,7 kali planet Jupiter. Jaraknya dari bumi sekitar 1400 tahun cahaya.
Foto: Jeffrey Hall, Lowell Observatory



Planet Kepler-10b, hingga saat ini diketahui sebagai planet terkecil di luar sistem tata surya.
Planet kerdil ini ditemukan pada Januari 2011.
Foto: NASA



Planet Epsilon Eridani b jaraknya sangat dekat dengan bumi, hanya sekitar 10.5 tahun cahaya.
Sedemikian dekatnya hingga kita bisa mengamatinya dengan teleskop.
Foto: NASA, ESA, G.F. Benedict

Planet OGLE-2005-BLG-390L b adalah planet yang terdingin
dan terjauh jaraknya dari bumi, sekitar 28 ribu tahun cahaya.




Read more >>

Mengenal Lebih Jauh Kehidupan Bintang Di Angkasa

Bintang adalah bola besar dan berpijar di angkasa yang tersusun atas gas hidrogen, helium, dan unsur-unsur lain. Bagi orang-orang di bumi, bintang-bintang tampak sangat redup dan kecil, jika dibandingkan dengan matahari kita (yang notabene juga sebuah bintang). Kenyataannya, banyak bintang yang sangat besar, dan bahkan berkali-kali lebih besar dari matahari. Mereka tampak redup mungkin karena jarak mereka sangat jauh dari kita. Apakah kehidupan bintang itu sama dengan matahari? Sebenarnya, kehidupan bintang berbeda-beda satu sama lain karena berbagai faktor. Bintang kecil menghabiskan bahan bakar mereka (gas hidrogen) lebih lambat daripada bintang yang besar, sehingga mereka dapat hidup lebih lama.

Bagaimana suatu bintang dilahirkan?
Ada banyak teori yang menyatakan hal ini, tapi yang paling dipercayai saat ini adalah teori nebula. Teori ini menjelaskan bahwa bintang dilahirkan di dalam debu dan awan gas raksasa yang disebut nebula. Saat debu dan gas menyusut akibat tarikan gravitasi, massa materi menjadi sangat padat dan panas. Jika panas yang terbentuk sudah sampai pada temperatur yang optimal, gas hidrogen mulai “terbakar” melalui reaksi fusi nuklir dan memancarkan energi dalam bentuk cahaya dan panas. Akhirnya, sebuah bintang baru mulai bersinar.



Selain bintang, umumnya materi awan dan debu tersebut juga membentuk planet-planet (disebut tata surya/solar system). Saat debu dan gas menyusut akibat tarikan gravitasi, rotasi materi tersebut semakin lama semakin tinggi hingga bagian tengahnya menggelembung. Akhirnya, sebagian lingkaran materi itu terlempar keluar dan kemudian mendingin, mengecil, dan berubah menjadi planet. Sementara itu, bola materi yang berada di tengah membentuk bintang.

Masa hidup bintang dapat mencapai jutaan tahun. Selama hidupnya, bintang membakar energi dan memancarkan cahaya dan panas.

Bagaimana Akhir Kehidupan Bintang?
Pada saat kehabisan bahan bakar (hidrogen), bintang-bintang membengkak dan permukaannya menjadi dingin (meski bagi kita tentu saja masih sangat panas). Bintang-bintang yang besar akan tumbuh menjadi “raksasa biru” dan meledak sebagai supernova. Bintang-bintang yang lebih kecil mengembang dan menjadi raksasa merah besar. Kemudian bintang-bintang itu kehilangan sebagian besar materi yang dimilikinya dan menyusut menjadi bintang katai putih. Bintang ini sangat kecil dan padat (seukuran bumi) , suhu permukaannya bisa mencapai 8000°C.



Kehidupan bintang berukuran kecil
Ledakan supernova dapat menghasilkan salah satu dari dua macam objek yang sangat aneh, yaitu sebuah pulsar atau sebuah lubang hitam. Keduanya berputar sekitar 1000 kali dalam sedetik. Pulsar akan terbentuk setelah inti bintang raksasa dilumatkan. Akan tetapi, jika inti bintang itu dilumatkan sampai batas tertentu, inti ini akan menjadi sangat padat dan otomatis memiliki gravitasi yang luar biasa besar. Inti bintang ini berubah menjadi lubang hitam. Lubang hitam memiliki gravitasi dimana segala sesuatu dalam jarak tertentu tersedot olehnya, meskipun itu adalah cahaya.



Lubang Hitam



Sebuah model pulsar

Sekedar info :
Bintang katai putih sangat padat sehingga satu sendok teh materi katai putih akan berbobot satu ton (hampir sama dengan berat mobil kecil). Akan tetapi, satu sendok teh material pulsar akan berbobot satu miliar ton, lebih berat dari bobot seluruh mobil yang ada di dunia.

Read more >>

10 Galaxy Terindah di Jagad Raya

Teleskop HubbleSpace adalah kolaborasi antara NASA dengan European Space Agency yang sudah beroperasi selama 20 tahun tidak henti-hentinya mengambil foto-foto luar angkasa. HubbleSpace merupakan salah satu teleskop terbagus NASA. Para astronom pun memilih 10 foto galaksi terindah dari sekian banyak foto galaksi yang pernah diambil oleh teleskopo HubbleSpace ini.

Berikut adalah 10 foto Galaksi terindah di Jagad raya yang fotonya pernah diambil oleh Teleskop HubbleSpace :

1. The Sombrero Galaxy




2. The Ant Nebula




3. Nebula NGC 2392




4. Cat's Eye Nebula




5. The Hourglass Nebula




6. Cone Nebula.




7. The Perfect Storm




8. Starry Night




9. The glowering eyes




10. The Trifid Nebula. A 'stellar nursery'



Read more >>

Fosil Afrasia: Bukti Tambahan, Primata Antropoid Paling Awal Berasal dari Asia, Bukan Afrika



"Afrasia tidak saja membantu menutup kasus bahwa antropoid pertama kali berevolusi di Asia, namun juga menunjukkan tentang kapan tepatnya nenek moyang antropoid kita pertama kali melakukan perjalanan ke Afrika, di mana mereka terus berevolusi menjadi kera dan manusia."

Sebuah tim peneliti internasional telah mengumumkan penemuan Afrasia djijidae, fosil primata asal Myanmar yang menyingkap langkah penting tentang evolusi antropoid awal – kelompok yang meliputi manusia, kera, dan monyet. Afrasia yang hidup di masa 37 juta tahun lalu ini mirip dengan antropoid lainnya, Afrotarsius libycus, yang hidup di zaman yang sama dan baru-baru ini di Gurun Sahara Libya. Kemiripan antara Afrasia dan Afrotarsius menunjukkan bahwa antropoid awal telah menduduki Afrika hanya sesaat sebelum kedua spesies tersebut hidup. Pendudukan antropoid awal di Afrika merupakan langkah penting dalam mengungkap evolusi primata dan manusia, karena mengatur panggung bagi evolusi selanjutnya ke arah kera dan manusia modern di sana.

Makalah ilmiah yang menjelaskan penemuan ini muncul dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, tertanggal 4 Juni.

Selama beberapa dekade, para ilmuwan menduga bahwa evolusi antropoid berakar di Afrika. Namun, penemuan fosil terbaru di Cina, Myanmar, dan negara-negara Asia lainnya dengan cepat mengubah pendapat ilmiah tentang di mana kelompok nenek moyang manusia pertama kali berevolusi. Afrasia adalah yang terbaru dalam serangkaian penemuan fosil yang menjungkirbalikkan konsep Afrika sebagai titik awal evolusi primata antropoid.


Gambar ini menunjukkan dua fosil geraham atas. Geraham atas Afrasia dari Myanmar di sebelah kanan, dan geraham atas Afrotarsius dari Libya di sebelah kiri. Peta pada gambar menunjukkan geografi purba dari bagian dunia ini di masa sekitar 38 juta tahun yang lalu. Model 3D ini adalah rekonstruksi Afrotarsius berdasarkan rekaan. (Kredit: Mark Klingler/Museum Sejarah Alam Carnegie)



“Afrasia tidak saja membantu menutup kasus bahwa antropoid pertama kali berevolusi di Asia, namun juga menunjukkan tentang kapan tepatnya nenek moyang antropoid kita pertama kali melakukan perjalanan ke Afrika, di mana mereka terus berevolusi menjadi kera dan manusia,” kata Chris Beard, ahli paleontologi dari Museum Sejarah Alam Carnegie dan menjadi salah satu anggota tim riset dalam penemuan yang juga melibatkan para peneliti dari Myanmar, Thailand, dan Perancis ini. Beard dikenal dalam pekerjaannya yang luas dalam mengungkap evolusi dan asal usul primata antropoid. “Afrasia adalah ‘pengubah-permainan’ karena untuk pertama kalinya memberi sinyal tentang kapan nenek moyang kita menduduki Afrika. Jika migrasi purba ini tidak pernah terjadi, kita tak akan pernah berada di sini untuk membicarakan tentang hal ini.”

Waktu adalah segalanya

Para ahli paleontologi sebelumnya telah membuat pemisahan pada bagaimana dan kapan tepatnya antropoid Asia awal melakukan perjalanan dari Asia ke Afrika. Perjalanan tersebut pastilah tidak mudah, karena Laut Tethys, yang kini adalah Laut Mediterania, memisahkan Afrika dari Eurasia pada masa itu. Meskipun tidak memecahkan misteri jalur perjalanan mereka dalam mencapai Afrika, namun penemuan Afrasia ini menunjukkan bahwa peristiwa pendudukan Afrika terjadi relatif baru, hanya sesaat sebelum fosil-fosil antropoid pertama ditemukan dalam catatan fosil Afrika.

Afrasia Myanmar yang hidup di masa sekitar 37 juta tahun yang lalu ini secara mengejutkan memiliki gigi yang sangat mirip dengan Afrotarsius libycus, primata Afrika Utara yang hidup di sekitar masa yang sama. Empat gigi Afrasia ditemukan setelah upaya memilah berton-ton sedimen selama enam tahun di dekat Nyaungpinle di pusat Myanmar. Lokalitas ini terjadi pada pertengahan Formasi Pondaung Eosen, di mana tim peneliti yang sama sebelumnya pernah menemukan Ganlea megacanina, fosil ‘berpengaruh’ yang dideskripsikan pada tahun 2009 dan membantu memperkuat keberadaan primata anthropoid awal di Asia.

Rincian bentuk gigi pada fosil Afrasia Asia dan Afrotarsius Afrika Utara menunjukkan bahwa kedua spesies ini mungkin pemakan serangga. Ukuran gigi mereka menunjukkan bobot badan yang hanya sekitar 3,5 ons (100 g), kira-kira seukuran tarsius modern.

Karena struktur gigi mamalia sedemikian rumit, para ahli paleontologi sering menggunakannya sebagai sidik jari untuk merekonstruksi bagaimana spesies-spesies yang sudah punah terkait dengan satu sama lain dan dengan kerabat modern mereka. Kesamaan ini memberikan bukti kuat bahwa sepupu Asia Afrasia telah menduduki Afrika Utara hanya sesaat sebelum munculnya Afrotarsius dalam catatan fosil Afrika. Jika antropoid Asia sudah tiba di Afrika Utara sebelumnya, maka perlu waktu untuk lebih banyak perbedaan yang berevolusi di antara Afrasia dan Afrotarsius. Kemiripan dalam hal usia dan anatomi di antara kedua spesies ini menjadikan Afrasia sebagai batu ujian dalam upaya melakukan penanggalan pada penyebaran primata anthropoid dari Asia ke Afrika.

“Selama bertahun-tahun kami menduga catatan fosil Afrika itu tidaklah bagus,” kata Profesor Jean-Jacques Jaeger dari Universitas Poitiers di Perancis, pemimpin tim peneliti dan asosiasi riset Museum Carnegie. “Fakta bahwa antropoid-antropoid yang serupa telah hidup pada masa yang sama di Myanmar dan Libya menunjukkan bahwa kesenjangan dalam evolusi antropoid awal di Afrika sebenarnya nyata. Antropoid tidak hadir di Afrika sebelum akhirnya kami menemukan fosil mereka di Libya.”

Implikasi bagi penelitian masa depan

Pencarian asal-usul antropoid awal – beserta perkembangannya, nenek moyang manusia awal – merupakan titik pusat bagi paleoantropologi modern. Penemuan Afrasia menunjukkan bahwa salah satu keturunan antropoid awal telah menduduki Afrika sekitar 37-38 juta tahun yang lalu, namun keragaman antropoid awal dari situs Libya, tempat ditemukannya Afrotarsius libycus, memberikan petunjuk bahwa gambaran yang sesungguhnya ternyata lebih rumit. Fosil antropoid-antropoid lain di Libya ini mungkin merupakan keturunan dari salah satu atau lebih koloni tambahan antropoid Asia, karena mereka tampaknya tidak secara khusus berkerabat dengan Afrasia dan Afrotarsius. Bukti fosil tentang pemisahan evolusi – ketika spesies terbagi untuk membuat garis keturunan baru – merupakan data penting bagi para peneliti dalam hal evolusi. Penemuan terobosan tentang kekerabatan antara Afrasia Asia dan Afrotarsius Afrika Utara ini merupakan patokan penting dalam menentukan penanggalan pada pendudukan antropoid Asia di Afrika.

“Penelitian terobosan seperti ini menggarisbawahi vitalitas pada museum-museum sejarah alam modern,” kata Sam Taylor, direktur Museum Sejarah Alam Carnegie. “Penelitian seperti ini hanya bisa dipertahankan dengan adanya koleksi-koleksi yang tak tergantikan, keahlian kuratorial, dan infrastruktur ilmiah yang bisa disediakan oleh museum-museum sejarah alam. Pada saat yang sama, ilmu pengetahuan seperti ini merevitalisasi program-program pendidikan museum kami serta menggerakkan misinya.”

“Merekontruksi peristiwa-peristiwa seperti pendudukan antropoid awal di Afrika bagaikan memecahkan sebuah berkas kasus yang sangat ‘dingin’,” kata Beard. “Afrasia mungkin bukan antropoid yang menjadi pelakunya, namun sudah pasti masuk dalam daftar singkat kami sebagai tersangka utama.”

Read more >>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...